Wedangan sebagai arena berkumpul sekarang ini berkembang luas, para pejuang kehidupan dari Bayat Klaten ini sudah menasional, dulu kegiatan mereka adalah berjuang untuk melawan kelaparan. Sekarang di kota manapun selalu ada wedangan atau hik, pada awalnya aktivitas ekonomi ini berawal dari kota Solo dan Yogyakarta. Kemudian wedangan atau hik dan sekarang terkenal sebagai angkringan merambah ke berbagai kota besar di berbagai propinsi di Indonesia, hampir disemua kota tujuan wisata di Jawa dan Bali seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar atau kota lainnya disana terdapat wedangan.
Pada masa tahun 70an hingga 80an mereka masih menjaul wedangan dan makanan keliling kampung, pada saat di Solo jelas diwarnai aktivitas yang seperti itu.Keluar masuk kampung dengan pikulan dan
![]() |
| Wedangan, HIK atau angkringan itdak lepas dari tiga ceret |
dengan berteriak hiiiikkkk demikian yang terjadi di Solo. Pada tahun 90an sudah berkembang menjadi gerobak beroda, ada yang mangkal dan menjadi arena nongkrong dimana-mana. Aktivis, budayawan, seniman dan politisi lebih banyak mengumpul dan berdiskusi di arena tersebut. Namun demikian saat kehadiran internet sudah menyebar seantero jagat raya maka wedangan juga menaiki tapak ke sana.
Wedangan yang dulu merupakan aktifitas pedagang kecil sekarang sudah menjadi incaran mereka yang memiliki modal. Bagaimana tidak sekarang dunia angkringan sudah menjadi tempat untuk nonton bareng(nobar) olahraga, kesenian atau kegiatan apapun. Sehingga sekarang sudah menjadi tempat hang out
siapapun dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Politisi pun hadir kesana untuk mencari massa, belum lagi wedangan menjadi hidangan istimewa saat wisuda, ulang tahun ataupun arisan.
Dengan demikian kita sudah tidak bisa lagi menganggap bahwa wedangan kegiatan yang tidak menghasilkan apa-apa, bahkan kawan-kawan saya saat kuliah sekarang pada menjadi pengusaha angkring, padahal dulu sama sekali tidak melihat ini sebagai sesuatu yang mendatangkan profit. Akan tetapi ternyata tidak hanya profit dari sisi ekonomi saja,
![]() |
| Selaku menjadi tempat santai |
orang yang datang dan menjadi pelanggan lebih melihat pergaulan mereka sebagai modal sosial, karena itu sekarang bereawal dari obrolan angkringan sudah berkembang membangun komunitas, berawal dari minat, bakat dan kemampuan yang sama, arena sharing, diskusi terbuka dan berbagi pengalaman hidup hingga membual terjadi disana. Maklum di angkringan ini berkumpul manusia berbagai latar belakang, mulai dari yang kalangan menangah ke atas, berpendidikan, kalangan bawah yang tidak berpendidikan, politisi, pengangguran, seniman, budayawan, pengacara, polisi, tentara bahkan kriminalis,penipu, dan PSK mereka berkumpul,yang jelas disana tidak ada batas.
![]() |
| Pelanggan bisa selfie disana |
Nah bila melihat dan mendengar diskusi yang terjadi disana sangat mengasyikkan dan lintas sektoral. Bila melihat pergaulan dan diskusi yang mengasyikkan disana maka wedangan menjadi tempat paling mengasyikkan disukusi bersama dalam situasi guyon saling membully tapi diakhiri tawa dan tanpa emosi. Kaki bisa diangkat alias jegang sambil nyruput wedang sambil pating klepus, begitulah suasana yang wedangan nah yang sedang pacaran pun asyik bercengkerama berdua seolah-olah tidak ada orang lain begitulah dunia angkringan, tempat bercanda bergurau, mengeluh dan sangat rumit tapi mengasyikan dunia tanpa jarak! Hidup menjadi berwarna jika kita bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat. Lebih indah lagi ketika disana berdebat selalu diakhiri tertawa bersama, dan kadang-kadang mereka lebih senang menertawakan diri mereka sendiri, hidup yang penuh empati!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar