Dalam dunia wedangan HIK atau angkringan tidak pernah lepas dari yang namanya peracik minuman kalau dalam dunia bar atau kafe semua tergantung pada bartender, demikian pula dalam dunia wedangan peran seorang peracik memiliki tempat tersendiri. Seorang peracik sebelumnya sudah malang melintang dari wedangan yang satu ke tempat lainnya menyeruput wedang jahe, kopi atau teh. Akan tetapi suatu hal yang menyenangkan bila budaya minum teh ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu bagaimana tidak dalam angkringan pelanggan yang mendominasi adalah pemesan teh dan jahe.
Seorang peracik teh akan meracik berdasarkan racikan teh dari berbagai kota dengan karakter masing-masing.Yang mana karakter dan rasa teh dari berbagai kota tersebut bakal menjadi andalan.
 |
| Peracik menyiapkan minuman |
Teh dari Tegal, Pekalongan dan Solo bakal mendominasi dunia wedangan karena rasa tehnya yang khas. Kita tidak bisa memungkiri ketika mendapatkan pelanggan yang kritis ketika datang bakal memesan wedang entah itu teh atau jahe. Baru mereka akan merasakan makanan nasi kucing yang terdiri dari nasi sambel plus bandeng sithik, oseng dan lain sebagainya. Namun demikian rasa wedan g yang khas ini dibuat berdasarkan pengalaman menjadi peracik yang tidak puas dengan ras teh yang sudah ada artinya peracik bakal keluar dari mainstream rasa teh. Melakukan inovasi agar tidak timbul rasa bosan dalam menghidangkan wedang bagi pelanggannya. Sehingga seorang peracik bakal melakukan inovasi terus menerus. Tak ubahnya seorang bartender dia bakal belajar tentang rasa tak ada habisnya.
Menjadi seorang peracik juga harus belajar dan belajar, bagaimana tidak bila meracik wedang jahe maka akan menghitung komposisi jahe dan rempah-rempah untuk mencapai keseimbangan agar semua bisa menjadi imbang dan sak sruputan segar di lidah. Nah peran yang demikian juga dipelajri tidak sehari dua hari tapi bertahun-tahun dengan melakukan tes terhadap rasa yang sudah ada,Karena pelanggan fanatik wedangan adalah mereka yang ingin keluar dari mainstream sehingga setiap wedangan dituntut untuk memiliki menu unggulan dan kekuatannya adalah rasa
 |
| Pelanggan sedang menunggu pesanan |
Menjadi peracik membutuhkan kesabaran karena ini adalah dunia olahan rasa. Bukan perhitungan matematis yang terjadi akan tetapi lidah, tentang asam, manis, asin dan pahit . Sepertinya itu tentang ilustrasi kehidupan kita. Sehingga ketika meracik sesuatu harus berempati dengan rasa yang diinginkan pelanggan dalam arti luas. Apalagi pada masing-masing kota belum tentu rpoduk pendukung itu ada sehingga harus rajin berinovasi. Tidak bisa berhenti begitu saja selalu bergerak dan bergerak tidak bisa lagi tinggal diam karena bila diam maka semuanya akan stagnan.Memang sepintas kelihatannya mudah dalam meracik minuman ternyata belajar komposisi di setiap kota tidaklah mudah, karena masyarakat masing-masing kota memiliki selera yang berbeda. Dan itu menjadi pijakan awal agar bisnis wedangan yang digeluti bertahan terus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar