Kamis, 11 Februari 2016

Era Jurnalisme Warga

       
    Bahwa pada saat dunia digital seperti sekarang ini, dimana internet sudah merambah ke desa-desa, masuk ke lintasan manapun tanpa batas maka sudah saatnya, masyarakat berperan aktif dalam melakukan pelaporan kejadian berbentuk berita.Hal itu menjadikan masyarakat bisa berperan aktif sebagai jurnalis.
Sebenarnya apa yang terjadi saat ini karena perkembangan tekhnologi informasi yang begitu cepat. Masyarakat yang tanpa melakukan pelatihan atau didikan yang jelas bisa membuat pemberitaan melalui media sosial. Apapun bisa dilapurkan mulai dari kegiatan pada tingkat RT hingga unjuk rasa di pemerintahan, ataupun demo buruh. Keadaan ini memacu kita untuk memahami kaidah jurnalistik yang ada sehingga apa yang diupload melalui facebook, twitter, path,instagram,blog, You Tube, google dan lain-lan. Belum lagi forum-forum online.Semua ditulis dengan modal apa adanya bahkan cuma modal hp android bisa membuat reportase. Mereka yang menulis sangat jarang memiliki pengalan dan pelatihan reguler menjadi jurnalis. Artinya masyarakat cuma bermodalkan kamera digital apa adanya, lebih sering lagi jurnalisme warga ini bisa membuat pelaporan jurnalis pada media massa ataupun elektronik yang ada. 
            Jurnalisme warga didasari oleh gagasan bahwa masyarakat yang tidak mengalami pelatihan maupun pendidikan jurnalisme profesional dapat memanfaatkan peralatan teknologi modern dan internet global untuk berkreasi, melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Hal itu bisa dilakukan sendiri maupun berkolaborasi dengan yang lain. Contoh, kita menulis tentang pertemuan di kantor bupati atau kepala desa  dalam blog kita atau forum online yang bertebaran.Yang tanpa sadar proses pelaporan tersebut ternyata sudah menyentuh kaidah jurnalistik yang ada, dan menyebarkannya melalui media sosial.Peristiwa gempa Bantul, Bencana Sinabung, hingga kasus sidang korupsi di pengadilan yang begitu saja menjadi potret sosial.

             Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat ini tanpa penyuntingan dari editor, peristiwa terjadi maka detik ke sekian sudah diupload di media sosial, dan seringkali kejadian ini juga dijadikan berita yang tidak jelas cuma hoax saja, karena itu ada baiknya meraka harus memahami tentang penulisan dengan bahasa sederhana dan memenuhi standar 5W 1H, yang jelas akan memperkuat merekan dalam melaporkan peristiwa di lapangan. Sebagai bentuk jurnalisme yang partisipatif dalam mengoleksi, menulis, menyunting, melaporkan, menganalisis dan menyebarkan berita serta informasi.
              Jurnalisme warga lambat mematahkan mitos dan meruntuhkan jurnalis profesional, bahwa jurnalis dari kalangan profesional lebih bagus. Apalagi dalam dunia media massa atau elktronik sekarang ada ruang untuk menerima jurnalisme warga. Akan tetapi mereka juga harus memperhatikan tentang kaidah jurnalistik, UU KUHP dan UU ITE sehingga dalam menulispun seorang jurnalis warga bakal berimbang.  
              Saat ini demokrasi yang berkembang semakin menunjukkan kejelasan bahwa masyarakat sudah mulai bergeser pada media jurnalisme warga bukan lagi jurnalis mainstreamsudah tidak eksklusif lagi kalau masyarakat makin insklusif dan transparan, apalagi jurnalis yang profesional seringkali terjebak pada menyuarakan penguasa dan pengusaha karena mereka diduga sudah tergoda dengan amplop.Disamping itu salah satu konsep pokok yang mendasari jurnalisme warga adalah bahwa reporter-reporter dan produser media mainstream bukanlah pusat pengetahuan tentang subjek tertentu yang bersifat ekslusif. Karenanya, sekarang banyak saluran media besar berusaha memanfaatkan pengetahuan pemirsanya melalui penyediaan kolom komentar di akhir tulisan yang dimuat online, atau membuat data base kontributor jurnalis warga sebagai sumber penyampai informasi. hal itu sebagai bentuk pengakuan terhadap jurnalisme warga. Selamat berjuang para jurnalis warga semoga kalian tetap bisa mempertahankan nilai-nilai moral dan tidak mudah terbeli.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar