Senin, 15 Februari 2016

Info: Menu yang biasa tersedia di wedangan,hik atau angkring adalah
 menu rakyat sehingga mudah dijangkau kantong.

Cek Kosong?

               Dalam dunia bisnis pembayaran bisa dilakukan dengan pembayaran dengan uang tunai, bilyet giro(BG) ataupun cek. Pembayaran dengan uang tunai lebih aman, akan tetapi bila transaksi dibayar dengan BG atau cek lebih membawa konsekuensi bagaimana tidak, apabila pembayaran berupa BG atau cek itu diberikan sebelum jatuh tempo nota maka akan membawa konsekuensi pada saatnya tempo pembayaran apakah saldonya cukup? Nah bila tidak cukup maka terjadi wanprestasi yang mana hal tersebut akan berpengaruh terhadap nama baik. Sementara bila itu dilakukan dengan unsur kesengajaan maka bukan tidak mungkin sudah berniat melakukan penipuan.
                 Hal yang demikian juga akan memiliki hancurnya kredibilitas seorang pengusaha. Oleh karena itu seorang pengusaha bakalan tidak berani main-main dalam pembayaran, karena sekali melakukan pembayaran gagal maka konsekuensinya adalah berita tersebar tentang ketidakberesan dalam dunia transaksi jual beli. Demikian pula dalam dunia politik maka segala sesuatu yang bersifat transaksional akan memiliki konsekuensi gagal pula.
  Seorang politisi entah di Indonesia atau negara lainnya,bakal berpikir keras untuk memberikan servis yang baik pada semua yang mengusung atau yang mendukung, begitu pula dalam kontek pileg, pilkada/pilwalkot, pilgub dan pilpres, cerita yang demikian sudah bukan rahasia lagi, Jokowi pun berusaha memenuhi janjinya dengan Nawacitanya.Seorang politisi siapapun dia bakal menghadapi tagih janji oleh rakyatnya, sekali tidak percaya maka rakyat tidak pernah akan ambil pusing apapun omongannya.
Ilustrasi ingat kata-kata Abraham Lincoln
               
                 Karena rakyat sebenarnya sederhana saja dalam memandang siapa pemimpinnya, apakah dia memiliki kejujuran, bersih dan amanah. Apabila seorang pemimpin bisa bertindak demikian maka rakyat tidak akan ribut atau menghujat, sebaliknya seorang pemimpin tidak memiliki keteladanan dalam hidupnya, dari sisi etika, moral dan menghalalkan segala cara apalagi kemenangan dicapai dengan cara-cara yang tidak wajar maka dia sudah memiliki modal sosial sedikit,
                Kelemahan itu bakal digunakan oleh orang dalam yang tidak suka sepak terjangnya untuik menghancurkan dia dari dalam. Sehingga pemimpin yang demikian ini bakal menuai banyak persoalan akibatnya tidak akan sempat untuk berpikir program untuk mengatasi konflik sosial dari dalam aja bakal repot. Orang jawa mengatakan bahwa penyakit batuk mudah disembuhkan dan banyak obatnya sementara watak bagaimana mungkin mengubahnya, watak akan habis seiring dengan hilangnya nyawa dari raga seseorang.
                Rakyat tidak mau ditipu oleh cek kosong dan rakyat butuh pembuktian janji-janji kampanye, apabila hal itu tidak ditepati berarti siap-siap menghadapi perlawanan rakyat, entah itu dalam tempo yang cepat atau lambat!

Minggu, 14 Februari 2016

Peracik dalam Dunia Wedangan HIK atau Angkringan

           Dalam dunia wedangan HIK atau angkringan tidak pernah lepas dari yang namanya peracik minuman kalau dalam dunia bar atau kafe semua tergantung pada bartender, demikian pula dalam dunia wedangan peran seorang peracik memiliki tempat tersendiri. Seorang peracik sebelumnya sudah malang melintang dari wedangan yang satu ke tempat lainnya menyeruput wedang jahe, kopi atau teh. Akan tetapi suatu hal yang menyenangkan bila budaya minum teh ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu bagaimana tidak dalam angkringan pelanggan yang mendominasi adalah pemesan teh dan jahe.
          Seorang peracik teh akan meracik berdasarkan racikan teh dari berbagai kota dengan karakter masing-masing.Yang mana karakter dan rasa teh dari berbagai kota tersebut bakal menjadi andalan.
Peracik menyiapkan minuman
Teh dari Tegal, Pekalongan dan Solo bakal mendominasi dunia wedangan karena rasa tehnya yang khas. Kita tidak bisa memungkiri ketika mendapatkan pelanggan yang kritis ketika datang bakal memesan wedang entah itu teh atau jahe. Baru mereka akan merasakan makanan nasi kucing yang terdiri dari nasi sambel plus bandeng sithik, oseng dan lain sebagainya. Namun demikian rasa wedan g yang khas ini dibuat berdasarkan pengalaman menjadi peracik yang tidak puas dengan ras teh yang sudah ada artinya peracik bakal keluar dari mainstream rasa teh. Melakukan inovasi agar tidak timbul rasa bosan dalam menghidangkan wedang bagi pelanggannya. Sehingga seorang peracik bakal melakukan inovasi terus menerus. Tak ubahnya seorang bartender dia bakal belajar tentang rasa tak ada habisnya.
          Menjadi seorang peracik juga harus belajar dan belajar, bagaimana tidak bila meracik wedang jahe maka akan menghitung komposisi jahe dan rempah-rempah untuk mencapai keseimbangan agar semua bisa menjadi imbang dan sak sruputan segar di lidah. Nah peran yang demikian juga dipelajri tidak sehari dua hari tapi bertahun-tahun dengan melakukan tes terhadap rasa yang sudah ada,Karena pelanggan fanatik wedangan adalah mereka yang ingin keluar dari mainstream sehingga setiap wedangan dituntut untuk memiliki menu unggulan dan kekuatannya adalah rasa
Pelanggan sedang menunggu pesanan
           Menjadi peracik membutuhkan kesabaran karena ini adalah dunia olahan rasa. Bukan perhitungan matematis yang terjadi akan tetapi lidah, tentang asam, manis, asin dan pahit . Sepertinya itu tentang ilustrasi kehidupan kita. Sehingga ketika meracik sesuatu harus berempati dengan rasa yang diinginkan pelanggan dalam arti luas. Apalagi pada masing-masing kota belum tentu rpoduk pendukung itu ada sehingga harus rajin berinovasi. Tidak bisa berhenti begitu saja selalu bergerak dan bergerak tidak bisa lagi tinggal diam karena bila diam maka semuanya akan stagnan.Memang sepintas kelihatannya mudah dalam meracik minuman ternyata belajar komposisi di setiap kota tidaklah mudah, karena masyarakat masing-masing kota memiliki selera yang berbeda. Dan itu menjadi pijakan awal agar bisnis wedangan yang digeluti bertahan terus.
Kreatifitas anak muda dalam mengerjakan disain grafis
bimbingan Yayasan Oerip Blakasoeta Purbalingga
membuat logo D'Wedangan Seger Waras Purbalingga

Komunitas ini sedang berkumpul di D'Wedangan Seger Waras Purbalingga

Wedangan di Angkringan Bisa Ngobrol Ngalor Ngidul

             Wedangan sebagai arena berkumpul sekarang ini berkembang luas, para pejuang kehidupan dari Bayat Klaten ini sudah menasional, dulu kegiatan mereka adalah berjuang untuk melawan kelaparan. Sekarang di kota manapun selalu ada wedangan atau hik, pada awalnya aktivitas ekonomi ini berawal dari kota Solo dan Yogyakarta. Kemudian wedangan atau hik dan sekarang terkenal sebagai angkringan merambah ke berbagai kota besar di berbagai propinsi di Indonesia, hampir disemua kota tujuan wisata di Jawa dan Bali seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar atau kota lainnya disana terdapat wedangan.

           Pada masa tahun 70an hingga 80an mereka masih menjaul wedangan dan makanan keliling kampung, pada saat di Solo jelas diwarnai aktivitas yang seperti itu.Keluar masuk kampung dengan pikulan dan
Wedangan, HIK atau angkringan itdak lepas dari tiga ceret
dengan berteriak hiiiikkkk demikian yang terjadi di Solo. Pada tahun 90an sudah berkembang menjadi gerobak beroda, ada yang mangkal dan menjadi arena nongkrong dimana-mana. Aktivis, budayawan, seniman dan politisi lebih banyak mengumpul dan berdiskusi di arena tersebut. Namun demikian saat kehadiran internet sudah menyebar seantero jagat raya maka wedangan juga menaiki tapak ke sana.
               Wedangan yang dulu merupakan aktifitas pedagang kecil sekarang sudah menjadi incaran mereka yang memiliki modal. Bagaimana tidak sekarang dunia angkringan sudah menjadi tempat untuk nonton bareng(nobar) olahraga, kesenian atau kegiatan apapun. Sehingga sekarang sudah menjadi tempat hang out
siapapun dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Politisi pun hadir kesana untuk mencari massa, belum lagi wedangan menjadi hidangan istimewa saat wisuda, ulang tahun ataupun arisan.
                Dengan demikian kita sudah tidak bisa lagi menganggap bahwa wedangan kegiatan yang tidak menghasilkan apa-apa, bahkan kawan-kawan saya saat kuliah sekarang pada menjadi pengusaha angkring, padahal dulu sama sekali tidak melihat ini sebagai sesuatu yang mendatangkan profit. Akan tetapi ternyata tidak hanya profit dari sisi ekonomi saja,
Selaku menjadi tempat santai
orang yang datang dan menjadi pelanggan lebih melihat pergaulan mereka sebagai modal sosial, karena itu sekarang bereawal dari obrolan angkringan sudah berkembang membangun komunitas, berawal dari minat, bakat dan kemampuan yang sama, arena sharing, diskusi terbuka dan berbagi pengalaman hidup hingga membual terjadi disana. Maklum di angkringan ini berkumpul manusia berbagai latar belakang, mulai dari yang kalangan menangah ke atas, berpendidikan, kalangan bawah yang tidak berpendidikan, politisi, pengangguran, seniman, budayawan, pengacara, polisi, tentara bahkan kriminalis,penipu, dan PSK mereka berkumpul,yang jelas disana tidak ada batas.
           
Pelanggan bisa selfie disana
     Nah bila melihat dan mendengar diskusi yang terjadi disana sangat mengasyikkan dan lintas sektoral. Bila melihat pergaulan dan diskusi yang mengasyikkan disana maka wedangan menjadi tempat paling mengasyikkan disukusi bersama dalam situasi guyon saling membully tapi diakhiri tawa dan tanpa emosi. Kaki bisa diangkat alias jegang sambil nyruput wedang sambil pating klepus, begitulah suasana yang wedangan nah yang sedang pacaran pun asyik bercengkerama berdua seolah-olah tidak ada orang lain begitulah dunia angkringan, tempat bercanda bergurau, mengeluh dan sangat rumit tapi mengasyikan dunia tanpa jarak! Hidup menjadi berwarna jika kita bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat. Lebih indah lagi ketika disana berdebat selalu diakhiri tertawa bersama, dan kadang-kadang mereka lebih senang menertawakan diri mereka sendiri, hidup yang penuh empati!

Jumat, 12 Februari 2016

Bagaimana Kaum LGBT Ingin Tobat, Apa yang Harus Kita Lakukan?

          Pagi ini aku kedatangan tamu nyleneh karena orang pasti benci kalo dengar LGBT yah dia seorang gay, tapi itulah kenyataannya dia adalah manusia dan diperlakukan manusiawi saja, keterkejutanku adalah dia curhat mau nikah sama lawan jenis! Wow......kenapa tobat? Aku sudah bosan dengan brondong pengin menikah dengan perempuan tolong bantu cari istri ya!
          Pernyataan  luar biasa, insting investigasiku jalan!.......ada yang bisa bantu? Sepertinya tidak mudah bagi seorang yang berbeda dan sudah menikmati kebebasan sebagai seorang homo sexual untuk melepaskan diri. Tetapi dalam bayangan saya apa yang tidak mungkin semua serba mungkin apalagi kalau dikasih sedikit pendekatan religi yang sebenarnya juga tidak hafal betul ayat apa yang pas, kalau saya cuma memberi pemahaman pada mulanya Tuhan menciptakan Adam dan Hawa aja jadi tidak ada yang aneh. Nah kemudian saya memberikan pemahaman apakah pernah berusaha dekat dengan perempuan?  Paling tidak saya memberikan deskripsi bahwa toh dia bisa dekat dengan perempuan, apalagi kalau dia sudah menikmati hubungan sejenis berarti sangat menikmati!
Ilustrasi Pria Kemayu
          Hal ini yang menjadi gambaran agar dia tidak lagi terjebak pada dunia lama dan segera saja menikah serta mencari perempuan yang mau mengerti tentang dia, kehidupan kelam sebagai gay. Saya pun mendengarkan dan bercerita bagaimana peran perempuan dalam hidup seorang pria hal ini untuk kembali berorientasi pada perempuan apalagi kebetulan ada seorang perempuan yang menyukainya dulu, sekarang dia juga gagal berumah tangga. Klop sudah untuk saling membantu paling tidak untuk membangun kepercayaan diri sebagai laki-laki.
           Meskipun dia selalu dihubungi mantan teman kencannya yang brondong dan dengan susah payah mengatakan tidak! Saya memberi dorongan dengan kata-kata yang memotivasi dia. Saya tanya apa sebagai pria tidak ingin memiliki keturunan? Apakah dibenarkan dalam agamnya berhubungan sejenis? Dan sambil mengatakan dia meneteskan air mata, bahwa tidak mudah baginya meninggalkan dunia yang sudah diterjuninya puluhan tahun. Kaum LGBT di sini banyak dari berbagai kalangan, wow Indonesia banget penuturunnya bahkan kota kecil seperti Purbalingga banyak juga komunitasnya. Dalam pikiranku ternyata tidak seperti Jakarta, Surabaya kota kecil juga sudah terbentuk komunitasnya.
           Ketika saya bertanya mengapa dia memutuskan untuk tiba-tiba tobat dari pergaulan LGBTnya? Dia mengatakan bahwa beberapa waktu lalu selalu memiliki ketakutan yang sangat bahwa dia mau segera mati! Dia merasa kena penyakit mematikan meskipun setelah diperiksa ke laboratorium tidak ditemukan sesuatupun alias sehat! Saya melihat raut wajah penuh kecemasan, nah baru lihat orang takut mati! Saya cuma memaparkan pekerjaanmu yang mapan itu bisa untuk menarik perempuan, tapi itu bukan yang utama carilah perempuan yang mau mengerti tentang jiwamu yang sakit dan dia mau menyembuhkan. Barangkali ada perempuan yang ingin membantu keluhan teman saya lepas dari dunia gay. Siapa perempuan yang berhati mulia itu? Semoga ada diantara para pembaca tulisan ini.

Kamis, 11 Februari 2016

Sosok:. Drs. H. Achmad Khotib, MPd (mantan Ketua PCNU Purbalingga) sosok inspiratif,visioner dan insklusif

Info bocah: Akibat terlalu banyak nonton sinetron tidak berkualitas bocah-bocah menjadi tukang ngrumpi

Sekilaf info: Sebuah impian dan keinginan untuk memiliki TV komunitas

Sebuah Catatan tentang Buruh

              Kekuatan buruh  di Purbalingga merupakan kekuatan yang benar-benar diperhitungan karena lebih dari 40000 buruh sektor informal dan non formal,  terutama didominasi oleh rambut palsu alias wig dan bulu mata, belum lagi industri lainnya ataupun pabrikan-pabrikan yang lainnya. Yang jelas kekuatan buruh disini didominasi kaum perempuan. Sehingga tampak jelas bahwa perempuan di kota ini telah melakukan metamorfosis dari pekerja sektor domestik menjadi sektor publik, tentunya kejadian membawa berbagai konsekuensi dalam tatanan hidup dan tatanan keluarga mereka. Namun demikian bahwa perubahan tersebut juga telah mengakibatkan perubahan positif dan negatif terutama peran dalam keluarga,sebgai isteri dan pencari nafkah. Banyak masalah muncul ketika perempuan bekerja dalam sektor publik, terutama dalam perhatian terhadap keluarga, belum lagi perubahan dominasi dalam keluarga, pendapatan isteri yang lebih besar dari suami atau dampak isteri yang bekerja dan suami yang menganggur, pola asuh anak tanpa peran ibu secara langsung karena lebih dipercayakan pada pembantu.
            
Buruh PT Sunchang melakukan unjuk rasa beberapa waktu lalu
  Nah persoalan di rumah tangga, berbeda sekali ketika buruh bekerja di perusahaan, bahwa persolaan ketenagakerjaan, penekanan dan penindasan oleh majikan dalam bentuk tidak ditepatinya upah buruh, menjadi persoalan tersendiri, tidak adanya kesetaraan antara buruh dan majikan. Karena buruh hanya menjadi obyek penderita saja, sebab setiap ada persoalan buruh tidak adanya publikasi dan pendampingan buruh dari LSM atau NGO, bilapun ada cuma menjadi bargaining saja terhadap kepentingan mereka hingga tercapai kesepakatan diantara mereka. Tidak seperti di Jabodetabek bahwa buruh bisa memiliki kekuatan.
              Lihatlah persoalan buruh yang ada apakah sudah sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No 13 tahun 2003 dan apakah mereka sudah menerapkan tentang UU Perlindungan anak No 23 tahun 2002 serta mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia karena kabupaten  Purbalingga didominasi Penanaman Modal Asing(PMA) sehingga hal ini perlu dilihat lebih jauh. Apakah benar berbagai pabrik yang bertebaran tidak memiliki masalah? Kita harus obyektif dengan menemp-atkan buruh sebagai subyek bukan obyek, nukankah yang membuat kaya majikan itu buruh? Bila majikan kaya bukankah buruh juga mendapat bagian? Apakah sudah demikian? Atau cuma memperkaya kalangan tertentu dan ada yang merasa tertindas? Nah disini yang bisa menjawab buruh!  
           
Mereka juga harus mempersiapkan diri bila di PHK baik karena usia atau persoalan lainnya, belum bila terjadi perselisihan buruh dan majikan harus mengadu kemana? Dinsosnakertrans? DPRD di komisi berapa? Mengadu Bupati? Siapa pendampingnya? Bila bentuk bagaimana menyelesaikan kasusnya? Oleh karena itu
Unjuk rasa buruh dan rakyat lawan CV Purbayasa
  Karena itu persoalan-persoalan kesejahteraan perburuhan mestinya bisa segera tertangani dengan adanya paguyuban buruh, serikat buruh atau organisasi untuk memperjuangkan aspirasi mereka harus ada! Nah yang dipertanyakan sejauh mana  keberpihakan pemerintah pada buruh misalnya bila terjadi PHK atau penerapan upah buruh yang baru. Karena itu untuk mengatasi persoalan buruh maka mereka harus meningkat solidaritas, entah aspirasi itu melalui koperasi atau paguyuban lainnya.
organisasi dan serikat buruh baiknya berasal dari komunitas mereka dan steril dari kepentingan politik! Sehingga benar-benar memahami persoalan buruh yang sedang dialami karena semakin hari semakin rumit! Bila buruh membentuk serikat buruh harus berprinsip dari buruh, oleh buruh dan untuk buruh!


Otokritik Hari Pers tentang Kebebasan Pers

Tulisan Nurudin Alumni FISIP UNS sekarang dosen UMM di koran Solo Pos Senin,9 Februari 2016 di halaman 4 GAGASAN saat hari Pers analisisnya bagus untuk para jurnalis dan praktisi media sebagai otokritik.

Era Jurnalisme Warga

       
    Bahwa pada saat dunia digital seperti sekarang ini, dimana internet sudah merambah ke desa-desa, masuk ke lintasan manapun tanpa batas maka sudah saatnya, masyarakat berperan aktif dalam melakukan pelaporan kejadian berbentuk berita.Hal itu menjadikan masyarakat bisa berperan aktif sebagai jurnalis.
Sebenarnya apa yang terjadi saat ini karena perkembangan tekhnologi informasi yang begitu cepat. Masyarakat yang tanpa melakukan pelatihan atau didikan yang jelas bisa membuat pemberitaan melalui media sosial. Apapun bisa dilapurkan mulai dari kegiatan pada tingkat RT hingga unjuk rasa di pemerintahan, ataupun demo buruh. Keadaan ini memacu kita untuk memahami kaidah jurnalistik yang ada sehingga apa yang diupload melalui facebook, twitter, path,instagram,blog, You Tube, google dan lain-lan. Belum lagi forum-forum online.Semua ditulis dengan modal apa adanya bahkan cuma modal hp android bisa membuat reportase. Mereka yang menulis sangat jarang memiliki pengalan dan pelatihan reguler menjadi jurnalis. Artinya masyarakat cuma bermodalkan kamera digital apa adanya, lebih sering lagi jurnalisme warga ini bisa membuat pelaporan jurnalis pada media massa ataupun elektronik yang ada. 
            Jurnalisme warga didasari oleh gagasan bahwa masyarakat yang tidak mengalami pelatihan maupun pendidikan jurnalisme profesional dapat memanfaatkan peralatan teknologi modern dan internet global untuk berkreasi, melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Hal itu bisa dilakukan sendiri maupun berkolaborasi dengan yang lain. Contoh, kita menulis tentang pertemuan di kantor bupati atau kepala desa  dalam blog kita atau forum online yang bertebaran.Yang tanpa sadar proses pelaporan tersebut ternyata sudah menyentuh kaidah jurnalistik yang ada, dan menyebarkannya melalui media sosial.Peristiwa gempa Bantul, Bencana Sinabung, hingga kasus sidang korupsi di pengadilan yang begitu saja menjadi potret sosial.

             Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat ini tanpa penyuntingan dari editor, peristiwa terjadi maka detik ke sekian sudah diupload di media sosial, dan seringkali kejadian ini juga dijadikan berita yang tidak jelas cuma hoax saja, karena itu ada baiknya meraka harus memahami tentang penulisan dengan bahasa sederhana dan memenuhi standar 5W 1H, yang jelas akan memperkuat merekan dalam melaporkan peristiwa di lapangan. Sebagai bentuk jurnalisme yang partisipatif dalam mengoleksi, menulis, menyunting, melaporkan, menganalisis dan menyebarkan berita serta informasi.
              Jurnalisme warga lambat mematahkan mitos dan meruntuhkan jurnalis profesional, bahwa jurnalis dari kalangan profesional lebih bagus. Apalagi dalam dunia media massa atau elktronik sekarang ada ruang untuk menerima jurnalisme warga. Akan tetapi mereka juga harus memperhatikan tentang kaidah jurnalistik, UU KUHP dan UU ITE sehingga dalam menulispun seorang jurnalis warga bakal berimbang.  
              Saat ini demokrasi yang berkembang semakin menunjukkan kejelasan bahwa masyarakat sudah mulai bergeser pada media jurnalisme warga bukan lagi jurnalis mainstreamsudah tidak eksklusif lagi kalau masyarakat makin insklusif dan transparan, apalagi jurnalis yang profesional seringkali terjebak pada menyuarakan penguasa dan pengusaha karena mereka diduga sudah tergoda dengan amplop.Disamping itu salah satu konsep pokok yang mendasari jurnalisme warga adalah bahwa reporter-reporter dan produser media mainstream bukanlah pusat pengetahuan tentang subjek tertentu yang bersifat ekslusif. Karenanya, sekarang banyak saluran media besar berusaha memanfaatkan pengetahuan pemirsanya melalui penyediaan kolom komentar di akhir tulisan yang dimuat online, atau membuat data base kontributor jurnalis warga sebagai sumber penyampai informasi. hal itu sebagai bentuk pengakuan terhadap jurnalisme warga. Selamat berjuang para jurnalis warga semoga kalian tetap bisa mempertahankan nilai-nilai moral dan tidak mudah terbeli.


Rabu, 10 Februari 2016


Yayasan Oerip Blakasoeta mengadakan Diskusi Refleksi Akhir Tahun 2015 bertemakan Membangun Kebersamaan dalam Satu Jiwa Pembicara R Ruliadi, SH (Direktur BUMN PT KIM Medan), H Barosad (Pengusaha), Sutjipto, SH (Pendiri PDIP Purbalingga)  dengan moderator Agustinus, S.Sos. Acara berlangsung 31 Desember 2015 dari jam 13:00 - 17:00 di rumah makan Joglo Jl Kanoman Purbalingga mendapat respon antusias perwakilan tokoh muda dan masyarakat yang hadir.

Mau Beragama atau Tidak Beragama itu Pilihan!

                      Pertanyaan yang menggelitik masa Tuhan mau diatur? Emang Tuhan beragama? Yang Maha Tahu serba super dan tidak pernah tidur sekejappun sejak dunia ini ada apa membuat kapling-kapling surga dan neraka, halah......lha kalo kaum kafir malah perbuatannya lebih bagus dari mereka yang beragama terus gimana? Emang orang beragama itu jaminan bahwa orang itu baik? Nah nek politisi jelas2 pada baik karena maunya! Jangan pernah bicara agama, surga dan neraka karena manusia sekarang sudah tidak bisa ditakut-takuti. Akan tetapi kalau pikiran, perbuatan dan omongannya selaras ya jelas memiliki integritas! Sedang kalau tidak dan bersikap munafik ya perlu dibuatkan piagam penghargaan sebagai orator terbaik, bila  semuanya serba lips service dan memalukan! Dunia oh dunia, kalau bicara politik apa masih yakin ada orang baik yang tidak ada maunya? Tuhan pasti tidak sebodoh yang manusia pikirkan, Tuhan itu lintas batas, lintas jaman, lintas generasi dan tidak urusan beragama ataupun kafir! Masa manusia mau mengendalikan Tuhan bila dia sudah berbicara atas nama agama! Hal itu menunjukkan mudahnya manusia mengendalikan dan menggerakkan atas nama Tuhan untuk mencari keuntungan sendiri, Tuhan untuk menggendutkan perut, nah inilah fakta menarik, karena mengatasnamakan Tuhan bisa untuk menjadi terkenal dan memperkaya diri!
                      Kita tahu Tuhan memiliki subyektifitas yang tidak bisa ditembus oleh manusia yang berdosa! Apakah ada manusia yang tahu isi hati dan pikiran Tuhan? Wow it's so sad! Sangat dangkal cara berpikirnya!Yang Penting kita memperkuat keimanan kita serta memperdalam ajaran agama masing2,saya yakin jika kita memiliki Iman yang kokoh,dan menjalankan ajaran masing2 agama,kita dapat saling menerima,saling menghargai,menolak pembedaan dan menerima perbedaan sebagai anugerah dari sang Pencipta,Kita bisa menciptakan hidup rukun dan damai.
                       Dalam hal beragama manusia setelah dewasa pun beragama hanya memenuhi syarat formal dan bersosial., sialnya lagi umat beragama sangat ingin dipuji, dengan menjadikan dirinya budak agama bahwa ia adalah pahlawan untuk sesembahannya. untuk nabinya untuk agamanya, padahal tidak sulit untuk menyadari bahwa pujian memabukan hingga membuat lupa diri. Pada akhirnya banyak umat beragama yang menyadari bahwa dirinya tidak pernah benar benar beragama, karena agamanya adalah warisan, penindasan orang tua.
Apakah di jaman seperti sekarang ini kita mau terjebak beragama secara formalitas saja dengan bergerak secara fisik saja, jawabanya ada dalam diri kita! Lebih baik tidak beragama alias kafir tapi tahu bagamana memanusiakan manusia dan memperlakukan mereka dengan beradab bukannya manusia diberlakukan biadab! Saya mau belajar menjadi manusia yang menghadirkan Tuhan setiap saat setiap waktu sehingga tidak akan menghakimi orang lain, silahkan mau atheis ataupun kafir tapi anda hidup di lingkungan nah lingkungan anda yang menilai sebelum masa penghakiman Tuhan hadir sesudah manusia mati!

Papa Momong Mama Kerja

                Kemampuan pabrik rambut untuk menampung tenaga kerja wanita menjadikan kenyataan bahwa di Purbalingga masih banyak bapak rumah tangga, karena sempitnya lapangan kerja pria, ini adalah pekerjaan rumah bupati Purbalingga!Ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini, sepertinya perlu diadakan pelatihan teknologi tepat guna atau pengembangan liife skill sesuai miinat bakat masing2 agar bisa mandiri! 
Karena persoalan yang dianggap sepele ini bisa menjadi masalah yang semakin runyam kedepannya.Hal itu bakal banyak menyita perhatian untuk mengatasi  mengatasi pengangguran dan krisis moral.  Pemerintah harus memberi prioritas pada laki-laki untuk mengisi lowongan pekerjaan yang ada.
Kewajiban suami itu mencari nafkah, itu paradigma yang melekat di masyarakat kita. Sayangnya, paradigma itu tidak digunakan oleh pengelola negara dengan membiarkan pabrik pabrik didominasi oleh para pekerja wanita, tanpa mempertimbangkan lapangan kerja yang cukup untuk laki-laki. Pemerintah hanya berorientasi pada keuntungan besar tanpa memperhitungkan dampak sosialnya. Padaha krisis imam bakal berdampak luas dan harus dipikir lebih jauh tidak sekedar praktis adanya pemasukan pada daerah saja! Bisa dibayangkan dampaknya kan? Krisis moral, krisis mental dan bisa-bisa mengakibatkan dismotivation!Nah ini kalo sudah begini, krisis imam dalam keluarga itu efeknya ngeri lho? 
                 Ketiadaan teladan dan figur kepala rumahtangga yang hilang secara sosiologis dan psikologis akan mengoyak mental petarung anak bangsa! Sudah semestinya pemimpin harus bottom up atau mboten up akan terlihat, karena pergerakan masyarakat basis. Jangan anggap persoalan papa momong mama kerja sebagai masalah sepele, akan tetapi ini akan menjadi pijakan bagi kepemimpinan yang ada untuk berupaya lebih keras menyelamatkan kaum pria dari degradasi mental, karenanya never give up!Mesikipun bagi sebagian orang itu bukan persoalan akan tetapi bagai yang tidak memiliki skill dan pemalas bakal menjadi masalah sosial.
                 Bagi saya hidup adalah kreatifitas, dikasih otak dan tangan apa pun jalan! Never give up! Namun bagi yang tidak memiliki life skill dan soft skill jangan harap bisa survive! Apalagi dari sisi akademis tidak memiliki pendidikan yang cukup bakal menjadi orang yang rapuh, mari bersama kita bangkitkan anak bangsa ini untuk bisa berkarya, jangan sampai krisis mental tersebut berkembang menjadi kronis dan menjadi bola liar, pemimpin harus bisa membangkitkan semangat!

Pemimpin Bersih Lebih Dirindukan Rakyat


Santai aja......ra sah kakehan pikiran.......
          Pilkada 2015 telah selesai, bagaimanapun Pilkada tersebut telah menghasilkan lahirnya pemimpin baru, dengan demikian apapun yang terjadi, maka rakyat Purbalingga harus mau menerima hasil Pilkada tersebut. Namun demikian kita sebagai rakyat sangat membutuhkan rakyat yang mampu mengakomodasi kepentingan rakyat, bukan kepentingan penguasa dan kroninya, sebentar lagi pelantikan Bupati dan Wakil Bupati artinya, pemimpin harus bisa berdiri di atas semua kepentingan golongan, harus mampu bersikap adil dan mau mendengar!
          Kita membutuhkan pemimpin yang disegani!Orang yang bermental tempe ya nggak bisa diharapkan jadi pemimpin! Bila ingin menjadi pemimpin yang baik jadilah pendengar yang baik dulu, dan itu bukan perkara mudah! Bagaimanapun intan ditaruh dimanapun, tetaplah intan, sekalipun dimasukin septictank! Dan lebih dari itu tidak bisa terbeli oleh siapapun dan berjuang untuk mereka yang terpinggirkan! Serta membela yang lemah!Tujuan tidak bakal tercapai bila bekerja sendiri, dan orientasi utama bukan uang sehingga apa yang diperbuat berhasil! Tetaplah di jalan Tuhan ben ra gumun tur kagetan. Bergotongroyonglah selalu!
          Kepemimpinan kolektif yang dicintai rakyat bakal lebih bisa bertahan lama dibanding dengan pemimpin yang tidak bisa  menggulawentah(baca: merangkul) semua elemen masyarakat, karena bagaimanapun juga kerja tim bila ingin berhasil dalam memimpin. Rakyat menunggu gebrakan pemimpin baru!